Kamis, 24 September 2020

Istirahatlah dengan Kata-kata

Lima Tahun sudah tak bertemu kata,
Lima Tahun sudah tidak menyelami rasa
Rasa yang selalu terpendam sendiri tanpa mencuat
Menunggu karam tertabrak karang

Bayi - Balita - anak anak - remaja - Dewasa - lansia
Fase dimana kita akan melalui itu semua,
Fase yang menjadi tolak ukur perbedaan Raga, Jiwa, dan Pikiran
Kenapa saya berhenti begitu saja?
Tidak berkembang, tidak berubah

Flashback lima tahun lalu dengan tulisan penyesalan
Sebuah salam perpisahan yang diselimuti kesedihan
Bukan, bukan dia yang jahat, hanya saya saja yang sangat tidak berkembang
Memendam semua
Menunggu karam menabrak karang

Kali ini, otak berfikir kalau saya adalah manusia lama
Yang terjebak dengan keegoisan yang tak kunjung pudar
Tatkala sang dewi melakukan tugasnya menjadi sang penguasa
Namun sang dewa yang sangat tidak berhenti tertuntut karna tak punya kuasa

Namun sepertinya bukan salah otak ini
Namun saya saja yang lemah
Tak kuat hati berbicara hanya tiga kata
"Kamu sangat berubah"

Kita bongkar satu persatu akar permasalahannya
Aku bukan lagi sang atap disaat kamu berteduh
Aku bukan lagi sang alas disaat kamu berbaring
Aku bukan lagi sang dinding disaat kamu membutuhkan sang kokoh
Aku bukan lagi rumahmu
Bukan lagi tempatmu, nyamanmu, kebahagiaanmu

Hati sering salah
Namun aku hanya sang manusia
Dan kau bukan sang hakim untuk mendakwa
Apa salahnya bersangka?
Apa salahnya menuduh?
Apa salahnya berasa?
Disaat aku
Merasa
Bukan kamu
Yang dulu
Kamu bukan
Aku
Yang aku rasakan

Bukan aku yang menyerah
Namun kamu yang memaksa
Bukan aku yang merasa dipaksa
Namun kamu yang tak berubah
Bukan aku yang merasa kau berubah
Namun kamu yang merusaknya
Bukan
Bukan salah kamu ataupun aku

Seperti hujan yang datang ketika kemarau
Semua keadaan akan terjadi
Tinggal bagaimana kita yang memilih
Tuhan yang menghendaki
Lari, lalu meneduh
Atau lari lalu terjatuh
Beteduh dengan keadaan
Atau berteduh setelah kebasahan

Pada intinya
Aku belum siap menghadapi ini semua
Aku belum siap kehilangan semuanya
Namun aku selalu siap dengan apa yang menjadi Kehendak-Nya


"Istirahatlah dengan kata"
Jakarta, 24 September 2020

Kamis, 31 Desember 2015

Maaf. Buku ini aku tutup.

Halo kamu,
Masih ingat kah masa-masa dengan ku?
Masih ingat kah apa yang terlah dilalui bersama ku?
Masih ingat kah dengan moment yang pasti kamu punya versi tersendiri yang sulit terlupakan?
Obrolan kecil diatas motor yang tidak terlalu penting,
Sebuah pelukan mesra melampiaskan sayang yang sangat lucu dari kamu?
Sebuah carikan manis di bibir rona mengekspose kejadian lucu yang kita jalani berdua
Sebuah pesan lugu tanda sayang yang sulit terjemahkan oleh otak pikiran sang ambisiusme
Sebuah rasa sayang yang lugu, yang selama ini aku menyesal telah gagal menerjemahkan semua itu. Sehingga ku baru tau dan menyesal sekarang baru bisa menerjemahkan semuanya.
Masih ingat kah kau?
Masa sulit yang telah kita lewati?
Masa sakit yang telah kita rasakan bersama?
Masa dimana kamu maupun aku merasa sangat bahagia telah saling memiliki?
Menolong?
Saling berlomba membahagiakan?
Hmmm...
Mungkin semua itu tiba-tiba saja sirna tersiram badai amarah?
Betul bukan?
Aku yang pertama merasakan, aku yang pertama meluapkan. Ya, disana aku salah mengakuinya. Padahal saat itu, aku tak bersungguh-sungguh. Malah tak yakin bisa melampaui hari sendiri.
Kesalahan fatal yang tak hanya cukup disesali; tak cukup di ratapi, sehingga sulit dilupakan dan dimaafkan olehmu.
Yaaa...
Aku rasa semua itu; pada hari itu, kita telah memaklumi kejadian itu, saling melupakan, saling belajar.
Tapi?
Dengan rasa ambisiusme, egoisme, dan rasa tak percaya aku, menjadi boomerang bagi hubungan ini di hari selanjutnya.
Kejadian yang sebenarnya sangat aku takuti, hindari, bahkan tak ingin sama sekali terjadi, malah akhirnya terjadi.
Aku khilaf...
Aku minta maaf...
Tapi percuma, keputusanmu sudah bulat.
Kamu...
Kebangganku yang selalu jadi bahan curhatan ketika berhadapan dengan-Nya
Yang selalu aku jadikan emas dari setiap obrolan yang mulai membosankan bersama sahabatku sehingga menjadi hidup dan menjadi obrolan yang asyik.
"Lo harus perhanin dia, lo gaboleh putus sama dia, beruntung lo sob"
Yaaa.. Pesan itu yang selalu terucap saat teman, sahabat, kerabat, mulai ku ceritakan satu persatu, dari yang sengaja, hingga tak sengaja dia melihat foto mu terpampang jelas di bagian layar depan HP-Ku
Orangtua, keluarga, sudah sangat bangga dan mempercayai sepenuhnya.
Tapi apa yang telah aku perbuat?
Maaf...
Ku terlalu sibuk memikirkan apa yang menjadi kesukaanmu,
Tapi melupakan hal apa yang bisa membuatmu sedih.
Rasamu telah sirna begitu saja semenjak kejadian itu.
Andai waktu bisa terulang...

Sekarang, kita telah sama sama sendiri,
Aku yang sekarang, berasa bukan aku.
Banyak moment yang tak bisa dilupakan
Tempat itu, kejadian itu, hal itu, semua.
Kemesraannya
Kebersamaannya,
Dan sebenernya semua kenangan yang tak pernah ada niat sedikitpun untuk dilupakan.
Sulit terlupakan, dan gak bisa dilupakan.
Masih belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan,
Maaf...
Tapi sekarang, kau terlihat lebih bahagia saat tak bersama ku.
Iya ya?
Hmmm... Bagaimana aku bisa bahagia, kalau bahagiaku itu bersamamu.
Tapi, kalau mungkin ini sudah jalan hidupmu, aku minta maaf.
Terima kasih atas semuanya.
Kelak...
Aku akan menyiptakan bahagia ku yang baru.
Maaf. Buku ini aku tutup.
Dan, hanya kau yang bisa membuka nya kembali.
Agar aku bisa menuliskan kembali semua nya

Jumat, 26 Juni 2015

Untuk orang yang pernah saya cintai dan mencintai saya

Untuk orang yang pernah saya cintai dan mencintai saya...
Tunduk kepala saya mengucapkan terima kasih telah membuat saya jatuh cinta dan sudah cinta kepada saya.

Untuk orang yang pernah saya cintai dan mencintai saya...
Telah banyak yang telah ku lakukan saat aku mengagumi dirimu, Telah banyak topik yang telah kita perbincangkan waktu itu, Telah banyak pengorbanan yang ku lakukan demi dirimu, telah banyak sekali kenangan yang tak mudah ku lupakan saat bersamamu.

Untuk orang yang pernah saya cintai dan mencintai saya...
Terima kasih telah mencintai diri saya, maaf sudah pernah mengabaikan, dan sudah tak punya hati mengacuhkan kalian demi dirinya. 
Terima kasih sudah pernah mencintai saya, orang yang salah.

Untuk orang yang pernah saya cintai dan mencintai saya...
Semua telah berlalu. Kebahagian telah tertanggal dan digantikan dengan penyesalan, kesuka cinta berganti dengan duka, ke ambisiusan berganti dengan rasa kecewa.

Untuk orang yang pernah saya cintai dan mencintai saya...
Saya tak pernah tau, kapan saya dicintai, kapan saya mencintai. Beribu sifat dihadapan anda yang terasa sangat kental terasa perbedaan sifat yang saya berikan dengan kalian.

Untuk orang yang pernah saya cintai dan mencintai saya...
Saya minta maaf sebesar-besarnya tidak pernah membuat hal terbaik,dan hanya memberikan luka ucapan banyak terima kasih, dan ucapan segudang maaf yang hanya bisa terlontar dihadapan kalian. 
Terima kasih saya ucapkan, telah memberikan saya pelajaran yang terbaik.

Untuk orang yang pernah saya cintai dan mencintai saya...
Izinkan saya untuk tidak mencintai, dan melarang untuk dicintai. Saya ingin menutup hati dengan siapapun.
Izinkan saya untuk berdiam, dan membutuhkan rasa sendiri agar lebih meresapi kebodohan saya.